KIsahku......

Kamis, 30 November 2017

Menyiapkan Lingkungan

Yeayyyy kali ini berkaitan dengan melatih kemandirian. Kami sekeluarga punya rencana ceklist kemandirian apa saja yang akan di asah sebulan kedepan. Tapi cerita kali ini akan fokus pada adik Kay yang berusia 18bulan. Kenapa adik Kay? Tantangan banget buat bunda karena adik Kay sedang dalam masa "melempar dan membuang apa yang ada di tangannya serta berekspresi cemberut"
Dan yang jelas, pada tahap usia 1-3thn ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya bunda melatih adik Kay untuk bisa setahap demi setahap menyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Rencananya ada sekitar 5 kemandirian yang akan dilatih. Diantaranya : meletakkan barang yang sudah digunakan untuk main pada tempatnya (membereskan), makan/minum sendiri (tanpa tumpah/berceceran), melepas celana, toilet training, berkata (terimakasih, meminta maaf dan Tolong), menunjukkan kepekaan terhadap emosi orangtua atau kakaknya.
Nah, seminggu ini akan fokus pada point meletakkan barang yang sudah digunakan untuk main pada tempatnya alias membereskan/membersihkan. Hal yang pertama bunda lakukan yaitu prepared environtment (kembali), alias setting rak kegiatan duoK (disesuaikan dengan minat dan kondisi anak pada saat ini).
DuoK terlihat lebih enjoy beberapa hari ini dengan setting rak aktivitasnya. Dan setiap pagi, adik Kay mulai rutin berkegiatan dengan mengambil aktivitas bermain air alias main tuang-tuang air. Pagi ini bunda minta adik Kay mengembalikan nampan berisi mainannya ke rak aktivitas.
Diambil satu per satu bagian, dan disusun suka-suka adik Kay (nampannya gak mau diletakkan di rak) tapi mangkok dan teko ukur diletakkan di rak (tempat semula). Semangaatttt berproses.
#Hari1
#Tantangan10Hari
#GamesLevel2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian
#institutibuprofesional

Kamis, 16 November 2017

"Every Mother Has Their Own Battle"

Komunikasi Produktif
Day#15
"Every mother has their own battle" terkadang orang tidak paham apa yang ada di balik layar kehidupan ibu lainnya. Menghadapi tingkah laku anak-anak 24jam/hari & 7hari/minggu. Belum lagi melihat kesibukan pasangan akan pekerjaannya 24jam/hari & 7hari/minggu. Lelah. Letih. Emosi. Bagaimana seorang wanita, terutama ibu harus berjuang melawan semua rasa dalam hatinya, pikirannya bahkan sikapnya.
Tak mudah, namun patut diperjuangkan untuk menjadi lebih baik lagi dan lagi. Seorang ibu butuh berada dalam suatu lingkungan tertentu (komunitas tertentu) untuk saling support dan bersikap positif -- diluar lingkungan keluarga tentunya.
Selama dua minggu ini, saya pribadi berjuang melawan ego, melawan sikap arogan, melawan emosi dalam sikap dan tindakan. I am truly do it. Bukan karena tantangan dalam komunitas, tapi setahun belakangan perubahan drastis pada diri saya (perubahan kearah kurang baik). Saya tahu dan sadar. Sekuat tenaga mau berubah, sekuat itupula tantangan hadir didepan mata. Ikut belajar sana sini namun belum menemukan titik dimana saya wajib belajar konsisten menerapkannya.
And yes.... ini ajang belajar bagi saya dalam berkomunikasi lebih produktif dengan keluarga saya. Naik turun pasti ada, namun mengatur nafas dan bersikap diam beberapa saat itu memang dibutuhkan. Semalam evaluasi bersama suami, dan saya katakan kalau sikap dan kata-kata saya saat menghadapi anak-anak sudah bisa lebih terkontrol. Dan, saya bisa lebih bahagia. Alhamdulillah. Semua berproses, karena badai tidak datang satu dua kali, tapi berkali-kali. Namun, konsisten berproses menjadi lebih baik dalam berkomumikasi produktif untuk keluarga itu yang paling utama.
#hari15 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney

Rabu, 15 November 2017

Pelukan Malam

Komunikasi Produktif
Day#14
Siang hingga malam ini, sikap kk Kal menjadi tak beraturan. Beberapa kali marah-marah hanya karena hal sepele. Yang saya lihat memang mencari perhatian. Tapi sejak awal bertekad untuk melakukan komunikasi produktif dengannya, maka saya pun harus selalu bisa berpikir dan bertindak dengan "tenang" karena sayalah orang dewasanya. Maka bukan saya yang akan ketarik oleh energi kk Kal, melainkan saya harus menarik energi kk Kal menjadi positif.
Sampai puncaknya malam ini, kk Kal berteriak sekali, dua kali lalu meloncat di kasur dengan rasa kesal dan ngoceh-ngoceh. Saya tahu, dia sedang mencari perhatian lebih. Padahal sejak tadi pun saya menanggapi dengan nada suara rendah, tanpa melengking marah-marah atau dengan mimik wajah menyeramkan. Menguji kesabaran sekaliiiii ya kaannn.
Akhirnya, setelah diam beberapa detik dengan hanya melihat kk Kal meloncat-loncat kasur, saya bicara pada ayah duok, untuk mengajak adik Kay pergi keluar (main diteras rumah). Sehingga saya punya kesempatan berdua kk Kal untuk bicara lebih baik lagi.
Saya tawarkan untuk memangku dan memeluk kk Kal, yang awalnya menolak akhirnya kk Kal mau juga. Sambil bertanya, "Kakak kenapa?"
"Habisnya bunda sama ayah.. Bla...bla..bla...." ujarnya meluapkan emosi sambil tetap saya peluk.
"Oh... Ok. Kk Kal tahu kan kalau bunda, ayah dan adik itu sayang kk Kal?"
"Iya. Tapi adik.... Bla...bla...bla....."
Saya diam sejenak, sampai kk Kal menyelesaikan apa yang ingin dia ucapkan, sambil tetap saya peluk.
"Kalau begitu, daripada kk kesal, kita coba menggambar yuk. Kk Kal ceritakan ke bunda melalui gambar. Apa aja si yang tadi dilakukan disekolah saat diruang montessori?"
"Iya. Mau bun. Tolong ambilkan bukunya ya?" pinta kk Kal.
Setelah itu kk Kal asik bercerita sambil menggambar di bukunya.
#hari14 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney

Selasa, 14 November 2017

Morphun Jadi "Hits"

Komunikasi Produktif
Day#13
Kk Kal termasuk anak yang memiliki keinginan kuat. Kami berharap keinginan kuat tersebut disalurkan untuk hal-hal positif. Salah satunya kegigihannya dalam membuat mainan jenis konstruksi. Bisa berjam-jam asik sendiri utak-atik plus bongkar pasang mainan tersebut. Kalau belum jadi, gak akan mau udahan bermain.
Yang belakangan sedang dicoba yaitu morphun. Bentuknya lebih besar dari laq, dan ternyata pertama kali mencoba "pegang" morphun, kk Kal langsung "tune in". Tahu bagaimana cara memasang dan melepas setiap bagian, paham membaca instruksi cara membuat suatu bentuk dan memainkannya. Bagi bunda ini adalah pencapaian luar biasa untuk anak usia 4,5tahun.
Disisi lain, saat kk Kal sedang fokus mengerjakan proyeknya, ada adik Kay yang turut berperan. Tak jarang terjadi perebutan, mainan menjadi lebih tersebar ke beberapa wilayah, bahkan terkadang akan berakhir rengekan atau tangisan.
Untuk mainan morphun yang sedang hits di keluarga kami, duoK mulai bisa saling "sibuk" dengan punyanya masing-masing. Semua ini diawali dengan komunikasi produktif dan dilakukan bertahap. Belum sempurna, namun progress semakin lebih baik dari sebelumnya.
#hari13 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney

Senin, 13 November 2017

Sepatu dan Permintaan Maaf


Komunikasi Produktif
Day#12
Belakangan, terasa sekali anak-anak sedang menguji mental dan kesabaran saya sebagai seorang ibu. Terlebih kk Kal. Pagi ini Kal bangun lalu meminta minum susu. Ok, setiap pagi bunda memang sudah buatkan susu milo hangat untuk kk Kal.
Seperti yang sudah-sudah, kegiatan pagi selalu runut, mulai dari bangun tidur, minum susu, main atau bercengkrama dengan adik Kay, mandi, pakai seragam sekolah, sarapan (makan snack), main sebentar, memakai jilbab, kaus kaki, sepatu, lalu jaket dan siap untuk berangkat ke sekolah bersama ayah.
Namun pagi ini, entah ada apa dengan kk Kal. Mulai dari lama memakai baju (baju cuma dimainkan saja, tidak segera dipakai) sampai bunda bilang, "Kakak ayo segera pakai baju sekolahnya, malu kalau habis mandi gak langsung pakai baju." dan dijawab, "iya bunda." oleh kk Kal. Tapi yaaa ternyata iya itu tidak langsung dikerjakan, butuh sekian menit untuk mengingatkan kembali (3x bunda mengingatkan) baru benar-benar dilakukan.
Menjelang waktu berangkat sekolah, tiba-tiba kk Kal merengek-rengek minta pakai kaos kaki. Tapi karena cara meminta bantuan sambil merengek, maka bunda konsisten untuk tidak langsung membantunya pakai kaos kaki. "Kalau kakak mau minta tolong pakai kaos kaki, maka bicara yang baik lebih dulu ke bunda. Bilang minta tolong dulu ya," berkali-kali saya utarakan kalimat ini ke kk Kal, tapi Kal malah makin merengek bicara tidak jelas dan marah-marah. Kalau saja saat itu saya benar-benar sedang bersumbu pendek, saya akan ikut marah-marah dan langsung memakaikan kaos kaki ke kk Kal sambil terus ngoceh. Apalagi waktu sudah mepet dan harus segera berangkat.
Tapi, lagi-lagi berjuang untuk berkata baik, meredam emosi dan mencoba berkomunikasi produktif harus dan kudu wajib dilakukan. Demi proses lebih baik dalam komunikasi keluarga kami.
Ok. Menjelang time out, tapi kk Kal tetap pada pendiriannya, merengek. Bunda coba tarik nafas dalam-dalam berkali-kali. Mengalihkan kegiatan ke adik Kay. Akhirnya ayah bantu bicara ke Kal untuk membantu pakai kaos kaki dan sepatu tapi Kal tetap maunya dibantu bunda. Ayah bilang, "kakak minta dipakaikan sepatu sama bunda? Yuk bilang yang baik ke bunda,"
"Sini, kk mau dipeluk sama bunda dulu?" bunda ulurkan kedua tangan untuk memeluk kk Kal. Terlihat kk Kal masih enggan, diam dan sesenggukkan. Saat itu bisa saja saya langsung memakaikan kaos kaki dan sepatu ke kk Kal, tapi bukan itu sesungguhnya tujuan saya. Lebih kepada bagaimana kk Kal bisa merespon dengan berkata yang baik. Kepada lawan bicaranya.
15 menit berlalu, sambil Kal dan bunda sama-sama menenangkan diri agar bisa merespon dengan tepat. Lalu bunda tawari lagi untuk memeluk kk Kal lebih dulu. Akhirnya Kal mau memeluk bunda. Sambil berpelukan, bunda tanya kembali ke kk Kal, apa yang Kal mau.
"Maafin Kalila ya bunda."
"Bunda, tolong pakaikan kaos kaki." Kata Kal.  Alhamdulillah, Kal mau mengutarakan keinginannya dengan intonasi suara yang terdengar jelas dengan nada bicara baik.
Intinya, bunda akan bantu anak-anak jika bersuara jelas dengan nada yang baik. Bukan ujug-ujug langsung ambil jalan pintas untuk membantu. Karena hal ini akan berpengaruh pada kehidupan masa akan datang. Bismillah, berjuang untuk lebih baik dan "waras" untuk bunda
#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney

Minggu, 12 November 2017

PR Itu Bernama Moody

Komunikasi Produktif
Day#11
Bekerjasama. Kata ini seringkali bunda lontarkan pada kk Kal. Terlebih saat brifing kk Kal untuk ikut pergi bersama bunda. Seperti yang kami lakukan hari ini, kk Kal menemani bunda di acara playdatebersama kunang-kunang kuning.
Di lokasi acara, sambil bunda menyiapkan segala macam perlengkapan, kk Kal terbilang kooperatif.
"Bunda, aku bantuin ya. " Kata kk Kal
"Iya, boleh."
"Kak, nanti bunsa mau mendongeng, kk nanti boleh duduk dekat bunda. Tapi bukan dipangkuan bunda ya," pinta bunda
Sampai menjelang acara mulai, kk Kal masih bisa diajak bekerjasama. Namun, tiba-tiba saat mulai pemanasan dan semua teman-teman berkumpul di halaman untuk melakukam gerak dan lagu, kk Kal berubah mood.
Sesungguhnya, kejadian seperti ini memang beberapa kali sering terjadi, perubahan mood. Hal tersebut bikin kk Kal, merengek minta ditemani atau didekat bunda, sama sekali tidak mau ikut instruksi, wajah tertekuk, plus akan bilang "gak bisa bun". Padahal gerakan yang diminta memang yang dia bisa dan seringkali dilakukan dirumah. Kayak mutung gitu jadinya si kk Kal. Lalu bagaimanaaaa? Secaraaaaa bunda tetap harus melakukan aktivitas lainnya.
Saat teman-temannya masih asik bergerak narinbaby shark, kupu-kupu, dll maka bunfa ajak kk kal sambil ngobrol, "Kak, mau minum dulu?"
Awalnya menggeleng dan tetap sambil wajah ditekuk.
"Kakak mau minum susu atau air putih?" tanya bunda
Kk Kal akhirnya menjawab, "susu"
"Ok. Kita masuk kedalam dulu, lalu ambil susunya ya." Mood mulai naik 1 tingkat. Walaupun selama acara berlangsung gak semulus yang diharapkan, karena ada drama perebutan mainan, wajah yang hampir setengah bagian acara selalu ditekuk, seringkali bilang "gak bisa" lalu agak merengek, belum.lagi kk Kal kena senggol temannya lalu nangis, apalagi saat sudah berkali-kali membereskan bola-bola ke dalam keranjang tapi dituang kembali sehingga bubar byarrrr. Tapi kk Kal sudah berusaha bekerjasama dengan bunda. Dan yang paliing penting, bunda nggak ikut tantrum (cuma elus-elus dada sambil nyengir dan berkata dalam hati, kapaaannn selesainya ini drama telenovela *eeehhhh). Mengelola perasaan 2 orang (bunda dan kk Kal) itu sungguh luar biasa.
#hari11 #gamelevel1 #tantangan10hari #komunikasiproduktif#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney