Kisahku......

Pernah nggak sih kita sebagai perempuan berharap diberikan seikat bunga oleh orang terkasih?
Lalu di waktu-waktu tertentu kita ingin sekali mendapat surprise kiriman bingkisan menarik dari orang tersayang?

Saya salah satu perempuan yang pernah pernah memimpikan hal tersebut. Mengharap sang kekasih memberikan bunga atau bingkisan spesial lainnya di hari-hari tertentu.

Kenyataannya?Selama 1,5 tahun sebelum akhirnya kami menikah, tak satu ikat bungapun diberikan olehnya pada saya. Duh… rasanya antara ngenes atau memang bukan gayanya untuk bersikap romantis seperti layaknya di film-film roman picisan.

Pupus sudah mimpi dikasih bunga pada saat itu. Padahal sebagai perempuan tentunya akan sangat bahagia jika diberikan hadiah berupa seikat bunga. Intinya sih ingin juga seperti pasangan lainnya yang suka diberikan seikat bunga atau hand bouquet dari orang terkasihnya.

Hadiah Untuk Mengungkapkan Perasaan

Bingkisan hadiah atau seikat bunga diketahui sebagai salah satu cara untuk mengungkapkan rasa sa…

Sepatu dan Permintaan Maaf


Komunikasi Produktif
Day#12
Belakangan, terasa sekali anak-anak sedang menguji mental dan kesabaran saya sebagai seorang ibu. Terlebih kk Kal. Pagi ini Kal bangun lalu meminta minum susu. Ok, setiap pagi bunda memang sudah buatkan susu milo hangat untuk kk Kal.
Seperti yang sudah-sudah, kegiatan pagi selalu runut, mulai dari bangun tidur, minum susu, main atau bercengkrama dengan adik Kay, mandi, pakai seragam sekolah, sarapan (makan snack), main sebentar, memakai jilbab, kaus kaki, sepatu, lalu jaket dan siap untuk berangkat ke sekolah bersama ayah.
Namun pagi ini, entah ada apa dengan kk Kal. Mulai dari lama memakai baju (baju cuma dimainkan saja, tidak segera dipakai) sampai bunda bilang, "Kakak ayo segera pakai baju sekolahnya, malu kalau habis mandi gak langsung pakai baju." dan dijawab, "iya bunda." oleh kk Kal. Tapi yaaa ternyata iya itu tidak langsung dikerjakan, butuh sekian menit untuk mengingatkan kembali (3x bunda mengingatkan) baru benar-benar dilakukan.
Menjelang waktu berangkat sekolah, tiba-tiba kk Kal merengek-rengek minta pakai kaos kaki. Tapi karena cara meminta bantuan sambil merengek, maka bunda konsisten untuk tidak langsung membantunya pakai kaos kaki. "Kalau kakak mau minta tolong pakai kaos kaki, maka bicara yang baik lebih dulu ke bunda. Bilang minta tolong dulu ya," berkali-kali saya utarakan kalimat ini ke kk Kal, tapi Kal malah makin merengek bicara tidak jelas dan marah-marah. Kalau saja saat itu saya benar-benar sedang bersumbu pendek, saya akan ikut marah-marah dan langsung memakaikan kaos kaki ke kk Kal sambil terus ngoceh. Apalagi waktu sudah mepet dan harus segera berangkat.
Tapi, lagi-lagi berjuang untuk berkata baik, meredam emosi dan mencoba berkomunikasi produktif harus dan kudu wajib dilakukan. Demi proses lebih baik dalam komunikasi keluarga kami.
Ok. Menjelang time out, tapi kk Kal tetap pada pendiriannya, merengek. Bunda coba tarik nafas dalam-dalam berkali-kali. Mengalihkan kegiatan ke adik Kay. Akhirnya ayah bantu bicara ke Kal untuk membantu pakai kaos kaki dan sepatu tapi Kal tetap maunya dibantu bunda. Ayah bilang, "kakak minta dipakaikan sepatu sama bunda? Yuk bilang yang baik ke bunda,"
"Sini, kk mau dipeluk sama bunda dulu?" bunda ulurkan kedua tangan untuk memeluk kk Kal. Terlihat kk Kal masih enggan, diam dan sesenggukkan. Saat itu bisa saja saya langsung memakaikan kaos kaki dan sepatu ke kk Kal, tapi bukan itu sesungguhnya tujuan saya. Lebih kepada bagaimana kk Kal bisa merespon dengan berkata yang baik. Kepada lawan bicaranya.
15 menit berlalu, sambil Kal dan bunda sama-sama menenangkan diri agar bisa merespon dengan tepat. Lalu bunda tawari lagi untuk memeluk kk Kal lebih dulu. Akhirnya Kal mau memeluk bunda. Sambil berpelukan, bunda tanya kembali ke kk Kal, apa yang Kal mau.
"Maafin Kalila ya bunda."
"Bunda, tolong pakaikan kaos kaki." Kata Kal.  Alhamdulillah, Kal mau mengutarakan keinginannya dengan intonasi suara yang terdengar jelas dengan nada bicara baik.
Intinya, bunda akan bantu anak-anak jika bersuara jelas dengan nada yang baik. Bukan ujug-ujug langsung ambil jalan pintas untuk membantu. Karena hal ini akan berpengaruh pada kehidupan masa akan datang. Bismillah, berjuang untuk lebih baik dan "waras" untuk bunda
#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip #bundakbelajar #motherhoodjourney

Postingan populer dari blog ini

KEMPING MINIM SAMPAH, BISA?

LAMOUR: BRING YOUR BEAUTY OUT

Gerilya Patjar Boekoe Cilik ke Patjar Merah