KIsahku......

Kamis, 12 September 2019

KEMPING MINIM SAMPAH, BISA?



Akhir pekan bisa menjadi lebih bermanfaat dan memorable ketika kita mampu memilih kegiatan apa yang tepat bagi seluruh anggora keluarga. Kegiatan yang dilakukan tak perlu mahal karena banyak alternatif liburan bersama keluarga yang relatif murah. Salah satunya berkemah atau kemping minim sampah.

Seperti yang pertama kali kami lakukan beberapa minggu lalu yaitu mengikuti kegiatan Family Eco Camp di Pinus Jungle Camp, Prigen-Pasuruan. Acara ini berkolaborasi dengan 5 komunitas, yaitu: Sahabat Alam Cilik, Komunitas Hebat, Akademi Minim Sampah, Rumbel Playdate dan Rumbel Zero Waste IP Surabaya. Kemping minim sampah dilakukan dengan tujuan mengangkat nilai “Return to Nature - Return to Culture”.


Kenapa? Karena perlu adanya perubahan paradigma. Bukan lagi kumpulkan atau bawa pulang sampahnya. Tetapi TIDAK menghasilkan sampah sejak awal, karena tidak ada tempat bagi sampah di alam.

Tema tersebut diangkat melihat makin banyaknya sisa konsumsi yang tertinggal begitu saja saat kita melakukan kegiatan kemah, mendaki gunung, tamasya ke taman hiburan atau sejenisnya. Tentu hal ini sangat memprihatinkan bagi lingkungan dan bumi jika kita tidak melakukan pencegahan sejak dari lingkungan keluarga.  




Menurut survey KLKH (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Komunitas Sapu Gunung pada April 2016,_Terdapat 453 ton sampah yang dihasilkan oleh 150.688 orang pendaki per gunung setiap tahunnya. Atau sama de gan sekitar tiga kilogram sampah per pengunjung. Sebanyak 53 persen atau setara dengan 250 ton sampah merupakan sampah plastik yang sulit terurai dan secara permanen berpotensi mencemari ekosistem_.

Namun demikian masih banyak orang yang beranggapan bahwa kegiatan kemping minim sampah bersama keluarga di alam bebas terkesan ribet, repot, kurang nyaman, bawaan jadi terlalu banyak serta sangat menyusahkan terutama terkait dengan urusan sanitasi seperti buang air besar/kecil dan mandi. 

Awalnya kami sempat berpikir demikian. Namun karena bertekad untuk melakukan hal baik dimulai dari kegiatan kecil, maka tantangan ini menjadi semakin seru dan menarik untuk dijalani. 



Tantangan dari minim sampah ini adalah dalam persiapannya. Oleh karena itu perlu ada yang namanya komitmen untuk saling bekerjasama dan edukasi sejak awal hingga setelah selesai kegiatan. 

Adapun kesepakatan Family Eco Camp ini yaitu barang-barang yang harus dihindari dan barang yang sebaiknya digunakan.

Yang harus dihindari:
1. Hindari penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah
2. Bukan lagi buang sampah ditempatnya, melainkan tidak menghasilkan sampah sejak semula.
Misalnya tidak menggunakan: tissue, rokok, sedotan plastik, plastik kresek, pembalut sekali pakai, gelas/botol plastik, minuman kaleng/botolan, snack dalam kemasan plastik, membungkus nasis menggunakan kertas nasi/sterofoam, dll.

Yang sebaiknya digunakan:
1. Gunakan selalu barang yang bisa dipakai ulang dan dapat terurai di alam
Misalnya gunakan: Kotak bekal dan alat makan pakai ulang, reusable menspad, lap/serbet, buah-buahan dan sayuran segar, botol minum, gunakan bahan alami untuk mencuci peralatan makan (gambas, lerak), dll.

Nah, bgaimana dengan sampah yang ada? Tentu saat ini tidak mungkin jika tak menghasilkan sampah sama sekali bukan? Contohnya pospak (bagi anak yang masih menggunakan). Untuk beberapa sampah yang masih ada (organik, pospak, dll) maka disediakan lubang untuk sampah organik dan lubang untuk sampah isi kapas/popok/pembalut.  




Bagaimana jika ternyata masih ada sedikit sampah? Maka masing-masing keluarga bisa menggunakan kardus dan bawa pulang sampah tersebut.
Satu hal lagi yang perlu diperhatikan saat kemping minim sampah yaitu bahan/bekal makanan, lakukan hal dibawah ini:
1. Beli sayur, buah dan bekal makanan tanpa plastik (hindari juga frozen food)
2. Kemas dalam wadah pakai ulang
3. Bawa peralatan makan pakai ulang
4. Siapkan lap/serbet
Untuk camilan:
1. Beli kiloan dalam wadah/toples sendiri
2. Tidak membawa snack dalam saset/kemasan plastik sekali pakai maupun sterofoam.




Butuh perencanaan yang tepat terhadap kebutuhan bahan makanan untuk sekeluarga. Pilah dan pilih bahan makanan yang awet dan tidak mudah busuk. Pengalaman kami membawa jambu air ternyata dalam kondisi kepanasan menyebabkan jambu air tersebut membusuk. Alhasil harus dibuang ke lubang sampah organik.

Secara keseluruhan, kegiatan kemping minim sampah ini banyak sekali membawa manfaat bagi keluarga. Tercipta waktu yang berkualitas. Anak dan orangtua bisa berkegiatan bersama baik di dalam tenda maupun luar tenda. Moment tersebut tentunya menjadi quality time yang sangat berharga. 









22 komentar:

  1. ya ampun kaget data sampahnya sampe 450an ton sampah setiap tahunnya duh sedih amat ini :( emang sih yah kudu persiapan lama ya mba kemping minim sampah tapi jauh lebih baik daripada sumbangsih sampah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar mba Herva. Kudu persiapan tapi untuk lebih baik ya

      Hapus
  2. Wah keren bgt ini programnya jd makin tersadarkan ternyata selama ini sering bgt nyampah dan kurang menjaga lingkungan, jd sedih:(

    BalasHapus
  3. Aku simpen di Evernote buat sumber inspirasi nih, Mba.... Kalau untuk kegiatan kemping yang identik dengan kepraktisan, keterbatasan bawaan,dan kecepatan saja bisa disiasati seperti ini, seharusnya untuk di rumah bisa lebih diatur dengan baik yaa supaya minim sampah. Jadi maluuuu....

    BalasHapus
  4. Jadi mau ikutan kalo ada acara serupa yang gak terlalu jauh di rumah misal di bogor atau bandung. Aku juga mulai ngurangin plastik tapi masih susah karena banyak hal yg kudu pake plastik 😣😥

    BalasHapus
  5. Susah gampang sih kak untuk membiasakan bepergian apalagi kemping ya agar bisa minim sampah, padahal sih jadi asik karena gak perlu repot bersih bersih lagi hihi

    BalasHapus
  6. Keren kalo ada kegiatan semacam ini. Jadi selain tamasya, anak-anak juga sambil belajar.

    Mereka jadi tahu, apa yang harus dilakukan jika melihat sampah berserakan ��

    BalasHapus
  7. Pertama kali tahu ada kegiatan camping minim sampah dari IG nya mbak DK. Wah seru ya acara seperti ini memang harus rutin diagendakan biar kita-kita dan khususnya anak bisa mulai belajar less waste 😄

    BalasHapus
  8. Dari sini aku makin belajar kalau selama ini aku 'nyampah' banget 😅. Padahal enggak kepikiran kalau masih banyak hal yang tidak harus makai plastik, huhu

    BalasHapus
  9. Asik nih kalo ada kegiatan macam ini. Belakangan ini banyak banget yg ngadain camping macam ini, termasuk ibu-ibu di kampungku. Alhamdulillah sih udah sadar betapa mengerikannya sampah

    BalasHapus
  10. Sampahnya 😭😭. Semoga para pencinta Kemping, Pencinta Alam Dan Pendaki segera stop menggun barang yg menjadi Dan menghasilkan sampah. lebih peduli lingkungan, Alam semesta.

    BalasHapus
  11. Sampah yang saya temui di setiap gunung saat mendaki itu memang luar biasa banyaknya. Kadang suka kepikiran sendiri ngaku pecinta alam tapi kok ya nyampah gak berusaha menjaga alam. Semoga aksi Mbak dan teman-teman ini jadi contoh bagi yg lain ya

    BalasHapus
  12. Kalau aku sih memang lebih suka daur ulang barang jadi bentuk baru yang lebih bermanfaat. Merasa sayang aja kalau membuang botol bekas, padahal ada banyak kreasi yang bisa dibikin. Seru juga buat aktivitas bareng anak.

    BalasHapus
  13. Aku suka dengan taglinenya, "Bukan lagi buang sampah ditempatnya, melainkan tidak menghasilkan sampah sejak semula". Yup bener banget nih kak walaupun sebenarnya sangat susah yak untuk tidak ketergantungan dengan plastik dan sedotan. Harus mulai dibiasakan nih

    BalasHapus
  14. Ini bagus banget program pikniknya, sambil belajar mengurangi sampah plastik. Apalagi kalau kita piknik sama anak-anak yang gak bisa jauh tuh biasanya tissue dan sedotan. Karena aku kalau pergi sama anakku yang paling banyak digunakan adalah tissue.

    BalasHapus
  15. Program piknik minim sampah ini keren banget, sih, Mbak. Soalnya kadang kalau sudah piknik atau camping gitu suka lupa diri, apalagi bawa beragam jajanan ini dan itu. Perlu dikurangi untuk penggunaannya memang, sampah sudah semakin meresahkan jumlahnya.

    BalasHapus
  16. Noted mbaak. Nah beli frozen food ini masih jadi PR sih. Soalnya kadang itu yang paling gampang kan ya. Tapi sekarang aku udah mulai bikin nugget atau chicken katsu sendiri hehehe jadi bisa berkurang deh :D

    BalasHapus
  17. Selain seru banget acaranya, anak anak juga dilatih jadi lebih cinta lingkungan ya mbak. Kadang kita juga ga sadar, asal aja make pelastik dan gak mikir dampak kedepannya. Aku sendiri masih berusaha banget ngurangin

    BalasHapus
  18. Selain mendekatkan anak dengan alam, camping ini juga sebagai saran untuk belajar lebih sederhana dan menghargai alam ya.. mengajarkan anak untuk senantiasa mencintai ala juga

    BalasHapus
  19. Wah kemping ini diprakarsai mbak DK wardani ya..keren..selama ini saya cuma ngikutin via buku dan postingan IGnya

    BalasHapus
  20. Waaah iya nih noted banget, karena saat kita k alam seringkali ada himbauan untuk tidak menghasilkan sampah disini. Padahal bisa d artikan bagaimana kita tidak memproduksi sampah disana dg tdk membawa produk yg menghasilkan sampah sampah tsb

    BalasHapus
  21. Seru banget nih, jadi bisa belajar juga nih kalau bawa anak - anak yah belajar meminimalisasikan sampah yah mbak.

    BalasHapus