PILIH CINTA ATAU BENCI?

Daftar Isi

Pasang surut dalam percintaan adalah hal yang wajar. Kamu masih cinta atau benci dia? Rupa-rupa bntuyk dalam hubungan seseorang. Bagaimana dengan kamu?
Ada kalanya kita sedang merasa malas jika berada dekat dengan pasangan. Tapi kondisi ini biasanya tidak berlangsung lama jika seseorang memang benar-benar mencintai pasangannya.
Bagaimana dengan yang satu ini?
“Cukup… atau aku akan benci sama kamu selamanya!”
“Sampai kapanpun aku nggak mau ketemu dia lagi!”
“Aku sama dia sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
cinta atau benci
cinta atau bnci
Apa yang ada dalam pikiranmu jika mendengar kalimat itu terlontar dari orang yang pernah saling menyayangi? Antar kakak adik, teman, saudara, orangtua dan anak?
Bahkan ada yang bersumpah untuk tak mengajak bicara selama-lamanya. Bernadzar untuk tak menginjak rumahnya. Membuang muka jika berpapasan. Saat bertemu di suatu majelis ia hanya menyalami yang sebelum dan sesudahnya dan sengaja melewatimu.
Secara pribadi, saya sangat takut mendengarnya. Melihatnya, bahkan merasakannya. Seperti itukah sikap seorang manusia? Seperti judul lagu Mengapa Tiada Maaf yang kembali dipopulerkan kembali oleh Yuni Shara.
Tak ada lagikah kata maaf terucap dari seorang hamba pada sesama hambaNya?
Benci tapi cinta perasaan yang membingungkan tetapi dialami banyak orang. Di satu sisi, Anda membenci, di sisi lain Anda merindukan.
Terkesan sepele. Namun memiliki makna dan dampak sangat mendalam. Pada dasarnya manusia mudah berganti rasa dari benci menjadi cinta dan sebaliknya.
Contohnya, tak mudah menggerakkan hati untuk berkunjung ke orang yang pernah dibenci. Mungkin masih terngiang sakitnya hati. Beratnya beban batin. Apalagi jika setan terus mengipas-ngipas bara luka lama.
Itulah saat setan memposisikan diri sebagai pihak yang patut dikunjungi. Bukan yang mengunjungi. Cinta yang berlebihan membuat manusia menjadi irasional, kurang memperhitungkan. Cinta itu tak memberdayakan tetapi malah merugikan. Begitu pula benci.
Cinta dan Benci bagi Kak Niken
Rasulullah Saw bersabda, “Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka, sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara” (HR Bukhari Muslim).
Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492)
Jika salah seorang dari keduanya bertaubat pada Allah, ia harus bersilaturrahim pada kawannya dan memberinya salam. Jika ia telah melakukannya, tetapi sang kawan menolak maka ia telah lepas dari tanggungan dosa, adapun kawannya yang menolak damai, maka dosa tetap ada padanya.
Hal mendasar apa yang membuatnya tetap membenci kita? Rasionalkah alasannya? Se-rasional apapun tetap ingatlah bahwa Allah Al Affuw, Maha Pemaaf. Begitupula sebaliknya bagi seorang hamba terhadap sesama makhluk ciptaanNya.
Silaturahmi bukanlah sekadar membalas kunjungan atau pemberian. Melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus.
Apalagi jika bersilaturahmi kepada orang yang membenci atau orang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.
Rasulullah saw. pernah mengingatkan itu dalam sabdanya, “Cinta bisa berkelanjutan (diwariskan) dan benci pun demikian.” (HR. Al-Bukhari).
Dalam kondisi ini, biasanya orang menjadi bingung untuk menetapkan pilihan. Di satu sisi dia masih mencintai pasangannya, tapi di sisi lain dia merasa lelah menjalani hubungannya yang tidak membuatnya bahagia.
Pilih cinta atau benci? So, pilihan ada di tanganmu.
Lakukan hal baik…. Usaha yang baik…. Dengan cara yang baik pula…. Bismillah.

Leave a Comment