Kesehatan Mental Ibu, Investasi Terbaik di Masa Pandemi

Investasi terbaik di masa pandemi mengambil peranan penting bagi seorang ibu. Masih ingat dalam ingatan kita mengenai kasus yang terjadi di daerah Tangerang sekitar sebulan lalu. Seorang ibu tega menganiaya anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD hingga menyebabkan kematian.

Penyebabnya karena perasaan jengkel berlebih saat anak tak mampu menguasai pembelajaran daring. Hal itu juga disebabkan minimnya kemampuan Ibu dalam melakukan pendampingan anak belajar di rumah. Hingga membuatnya tak segan untuk memberikan hukuman fisik yang berakibat fatal pada anaknya.

Ternyata kasus kekerasan seorang ibu hingga menyebabkan pembunuhan terhadap anaknya makin meningkat selama masa pandemi ini. Getir rasanya. Namun mencoba melihat kenyataan yang ada dari berbagai sudut pandang.

Sebagai seorang ibu, Kak Niken juga pernah melakukan tindakan tidak menyenangkan pada anak di masa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) ini. Baik itu verbal maupun non verbal. Contoh kekerasan verbal yang terjadi misalnya menjelekkan anak ketika tidak bisa menyelesaikan tugasnya tepat waktu karena lebih memilih untuk bermain sepanjang hari.

Bahkan pernah juga melempar buku-buku pelajaran hingga berhamburan. Karena saat itu anak belum siap untuk mengikuti sekolah daring. Hal sepele namun mampu memicu amarah yang tak terkondisikan. Sungguh menyedihkan.

Ya… Seberapapun ilmu parenting yang pernah kita pelajari, ada kalanya sebagai orangtua pernah “kepeleset” juga. Namun parahnya, anaklah yang sering menjadi korban ledakan emosi orang tua. Kalau mengingat hal itu tentu saja rasa penyesalan muncul belakangan. Hiks….

Kesehatan mental mulai terganggu!

Investasi terbaik di masa pandemi
Investasi terbaik di masa pandemi

Baca juga: Pentingnya mengapresiasi anak

Tentang Kesehatan Mental

Konsep kesehatan mental atau altibb al-ruhani pertama kali diperkenalkan kedokteran Islam oleh seorang dokter Persia bernama Abu Zayd Ahmed bin Sahl al-Balkhi (850-934). Dalam kitabnya Masalih wa al-Abdan alAnfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa).

Ia menggunakan istilah Tibb al-Qalb untuk menjelaskan kesehatan mental. Menurut al-Balkhi, badan dan jiwa bisa sehat dan juga bisa menjadi sakit. Ini disebut keseimbangan dan ketidakseimbangan.

Ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala dan nyeri tubuh. Sementara itu, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat memicu kemarahan, kecemasan, kesedihan dan gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.

Ahh…kalau mengingat beberapa kejadian belakangan ternyata banyak sekali khilaf yang sudah kami lakukan sebagai orang tua. Membersamai anak PJJ memang tak mudah, tapi bukan berarti menghalalkan cara yang dapat melukai anak itu dibenarkan.

Kesehatan jiwa memang dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan kita. Peristiwa-peristiwa tersebut bisa berupa kekerasan masa kecil, trauma, permasalahan dalam rumah tangga, pelecehan atau stress berat jangka panjang hingga masalah ekonomi.

Stres orang tua yang semakin meningkat inilah yang menjadi cikal bakal munculnya amarah. Ditambah dengan rendahnya tingkat kesabaran dan tingginya tensi orang tua terhadap berbagai masalah yang muncul.

Bahkan tidak jarang ada orang tua yang tidak kuasa untuk mengatasi tekanan emosionalnya ketika muncul masalah kecil di dalam keluarganya. Pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kesehatan fisiknya.

Baca juga: Kunci utama pola asuh di masa pandemi

Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Faktor yang mempengaruhi kesehatan mental Ibu dan menyebabkan gangguan dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Faktor Biologi

Genetik, kimia pada otak dan gangguan pada otak

  1. Faktor Kehidupan

Trauma, pelecehan, racun, alkohol atau obat-obatan

  1. Faktor Keluarga

Riwayat keluarga, masalah keluarga dan atau pasangan, interaksi sehari-hari

Secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: kepribadian, kondisi fisik dan psikologis, perkembangan dan kematangan, keberagaman, sikap menghadapi problema dan kebermaknaan hidup serta keseimbangan dalam berpikir. Sedangkan faktor eksternal, yaitu: kondisi sosial, adat dan kebiasaan.

Namun yang memiliki peran paling dominan yaitu faktor internal. Nah ini dia,  Kak Niken juga mengalaminya! Bahwa ketenangan jiwa atau kebahagiaan batin itu tak banyak bergantung pada faktor dari luar. Tapi lebih tergantung pada cara dan sikap menghadapinya.

Aspek kesehatan mental sebagai investasi terbaik di masa pandemi
Aspek kesehatan mental

Pentingnya Kesehatan Mental

Disadari atau tidak bahwa pengasuhan anak pada masa pandemi harus mengalami transformasi. Maka pentingnya kesehatan mental ibu merupakan investasi terbaik di masa pandemi. Langkah awal yang dapat di ambil yaitu melakukan konsultasi dengan seorang psikolog.

Berikut ini kriteria mental yang terjaga, yaitu:

  1. Dapat mengatasi berbagai stres dan masalah kehidupan
  2. Mampu bekerja secara produktif
  3. Bisa menggali potensi diri
  4. Berkontribusi terhadap masyarakat sekitar

Baca juga: Kompak bareng pasangan

Investasi Terbaik di Masa Pandemi

Kebetulan pada 10 Oktober ini kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Mengambil tema yang tepat yaitu tentang investasi kesehatan mental yang diperingati saat kondisi dunia tidak kondusif akibat pandemi Covid-19. Peningkatan investasi  dalam kesehatan jiwa itu diumumkan oleh WHO.

Walau tidak semua orang yang mengalami gangguan mental tidak selalu terlihat sering melakukan kekerasan atau memiliki perilaku yang berbeda. Bahkan kita sama sekali tak dapat mengenali gejalanya. Bisa jadi kita masih tetap aktif dan produktif seperti pada umumnya.

Maka untuk menunjang kesehatan mental agar menjadi investasi terbaik di masa pandemi bagi seorang ibu, mencakup:

  1. Kesehatan Mental

Merupakan bagian penting dalam hidup seorang ibu. Konsekuensi kesehatan, sosial dan ekonomi akan berdampak luas. Kita bisa melakukan beberapa cara sederhana untuk menjaga kesehatan mental.

Kesehatan jiwa ibu merupakan ruh dari kebahagian keluarga.

  1. Lingkungan Tempat Tinggal

Perubahan lingkungan dapat membawa pengaruh positif ataupun negatif. Faktor lingkungan menjadi prakondisi bagi sifat dan perilaku seseorang. Mereka dapat mempengaruhi lingkungan demi kemajuan dan kesejahteraan hidupnya.

Lingkungan tempat tinggal merupakan media atau tempat manusia tinggal, mencari dan mengembangkan penghidupannya. Biasanya memiliki karakter serta fungsi yang khas sebagai bentuk eksistensi kehidupannya.

  1. Ketaatan Beribadah

Setiap tindakan yang disesuaikan dengan ketentuan Allah serta menjaga diri dari batas-batas yang telah ditentukan-Nya merupakan ibadah. Ketaatan pada Allah swt dan Rasul-Nya merupakan motivasi internal terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang harus dimiliki seorang ibu.

Yang dimaksud ketaatan ialah perbuatan yang diridhoi Allah, seperti dalam Al-Qurnan Surat Adz Dzariyat 51:56:

“Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu”

Ketaatan beribadah membawa dampak positif terhadap kehidupan. Pengalaman membuktikan bahwa seseorang yang taat beribadah akan selalu mengingat Allah SWT jiwanya akan semakin tentram.

Itulah dua investasi terbaik di masa pandemi yang dibutuhkan oleh seorang ibu. Bagaimana menurutmu?

2 thoughts on “Kesehatan Mental Ibu, Investasi Terbaik di Masa Pandemi”

Leave a Comment