Kusta dan Disabilitas Identik Dengan Kemiskinan, Benarkah?

“Bila tingkat kemiskinan warga normal yaitu 10,14%, para disabilitas fisik mencapai 15,25%.” Ujar Dwi Rahayuningsih, Perencana Ahli Muda, Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat. 

Hal itu diungkapkan Dwi saat acara Ruang Publik KBR yang didukung oleh NLR Indonesia. Disiarkan melalui live streaming YouTube pada hari Rabu, 28 September 2022. Serta ada juga narasumber, Sunarman Sukamto, Amd – Tenaga Ahli Kedeputian V, Kantor Staff Presiden (KSP). Mengangkat tema “Kusta dan Disabilitas Identik dengan Kemiskinan, Benarkah?”

Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang sangat kompleks di Indonesia. Tak hanya dilihat dari segi medis tapi juga merembet pada masalah sosial, ekonomi, serta budaya. Ini akibat adanya stigma di masyarakat terhadap kusta dan disabilitas yang menyertainya.

Stigma terhadap penderita kusta dan penyandang disabilitas hingga saat ini masih sering terjadi di Indonesia. Sehingga menimbulkan diskriminasi pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). 

Diskriminasi yang terjadi nyatanya juga berpengaruh terhadap tingkat perekonomian. Karena mereka kesulitan memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang wajar.  Berdasarkan data yang disebutkan diatas tadi, ternyata tingkat kemiskinan disabilitas termasuk kusta, relatif lebih tinggi dibandingkan yang bukan disabilitas.

Talkshow ruang publik KBR
Talkshow ruang publik KBR

Talkshow Ruang Publik KBR: Kusta dan Disabilitas Identik dengan Kemiskinan, Benarkah?

Oleh karena itu, mereka tidak bisa hidup lebih mandiri dan serba kekurangan. So, benarkah penderita kusta dan disabilitas identik dengan kemiskinan?

Kalau kita membaca data, seperti yang dilansir dari WHO. Ternyata Indonesia masuk dalam salah satu negara penyumbang kasus baru kusta nomor 3 terbesar di dunia, setelah India dan Brasil. 

Dwi Rahayuningsih mengatakan bahwa masalah disabilitas termasuk kusta ini sudah diatur juga dalam UU 8 Tahun 2016. Disebutkan,

“Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.”

Tapi, nggak hanya berhenti pada permasalahan kusta saja. OYPMK yang mengalami masalah kekurangan secara fisik, memunculkan masalah ekonomi. Karena tidak bisa mandiri dan meningkatkan taraf hidupnya. 

Seperti yang tdi sudah dituliskan, bahwa tingkat kemiskinan OYPMK disabilitas lebih tinggi, karena adanya stigma negatif. Menyebabkan mererka tidak bisa produktif bekerja. Ruang untuk berkarya sangat terbatas. Sehingga akan meimbulkan masalah ekonomi yang cukup serius.

Kusta dan disabilitas
Kusta dan disabilitas

Upaya Mengatasi Kemiskinan

Maka melalui program kesehatan, pemeritah melakukan edukasi terkait stigma terhadap penyandang disabilitas dan OYPMK. Serta melakukan kegiatan pengobatan gratis bagi penderita kusta.

Pemerintah juga melakukan pemetaan untuk lebih mempermudah dalam melakukan eliminasi kusta melalui beberapa program. Langkah yang bisa dilakukan diantaranya memotivasi, memberikan pengetahuan keterampilan hidup, pengerahuan, serta pelatihan.

Tujuan awalnya agar mereka tidak merasa rendah diri atau mindrr. Karena sudah memiliki keterampilan serta mampu menjadi lebih produktif.

Program Kementrian Sosial

  • Pembagian bantuan sembako.
  • Bantuan asistensi rehabilitasi sosial dan penyaluran alat bantu bagi para penyandang disabilitas.
  • Program kemandirian usaha.
  • Menyelenggarakan kegiatan salter eks-kusta untuk berkarya.
  • Program keuangan modal usaha.

Baca juga: Indonesia Bebas Kusta: Strategi Pembangunan Inklusif Disabilitas

Peningkatan Pemberdayaan

Keterlibatan perusahaan melalui program CSR juga sangat membantu. CSR diharapkan bisa menjangkau para penyandang disabilitas untuk lebih memberdayakan mereka. MIsalnya seperti pelatihan kewirausahaan, manajemen bisnis, dan lainnya.

Atau sosialisasi program “return to work.” Sehingga kecelakaan kerja yang mengakibatkan terjadinya disabilitas para pekerja, mereka bisa tetap diterima kerja.

Sebenarnya, penyakit kusta tidak menular dengan cara yang mudah. Maka kita perlu mengedukasi diri dan lingkungan terhadap keberadaan penyakit kusta. Terlebih juga memberikan dukungan dan memberikan kesempatan untuk mereka bisa berkarya di masyarakat.

Disabilitas identik dengan kemiskinan, benarkah? Sebenarnya kusta itu bukan kutukan, dan kusta itu bisa disembuhkan.

Leave a Comment