Tips Cerdas Memilih Sekolah Untuk Anak, Ini Kuncinya!

Grup whatsapp yang isinya para ibu muda yang memiliki anak usia 3-7 tahun mulai dihebohkan dengan jadwal pendaftaran siswa baru dan memilih sekolah untuk anak. Walaupun tahun ajaran baru, baru akan dimulai pertengahan tahun.

“Gimana sih cara memilih TK yang bagus?”

“Anakmu masuk SD dimana? Syaratnya harus bisa membaca dan menulis ya?”

Maklum saja, untuk beberapa sekolah swasta pendaftaran sudah dimulai sejak awal tahun, ada juga sekolah yang buka sejak akhir tahun lalu. Jadi kalau terlambat daftar pastinya butuh effort untuk mencari sekolah lainnya yang masih buka pendaftaran.

Memilih sekolah untuk anak
Memilih sekolah untuk anak

Menyekolahkan Anak Usia Dini, Perlukah?

Keputusan menyekolahkan anak di usia dini tentu butuh pertimbangan. Pengalaman Kak Niken yang saat itu sebenarnya juga aktif melakukan kegiatan belajar sambil bermain dirumah dengan metode Montessori dan Sentra, akhirnya ikut menyekolahkan anak pertama di sekolah formal. 

Lho kok? Jadi, saat itu kondisi sedang hamil besar dan sebagai orangtua, tentu punya pertimbangan tersendiri. 

Bagaimana jika adiknya lahir dan si kakak merasa iri karena bundanya sudah jarang bermain dengan dirinya? Bagaimana kalau bunda sibuk dengan adik dan kakak nggak diurus? Bagaimana kalau bunda terkena baby blues syndrom dan tantrum? 

Ealah…banyak banget bagaimananya ^.^ Maklum nggak punya asisten rumah tangga jadi semua tentu dikerjakan sendiri. Pastinya sebagai ibu dengan dua anak atau lebih, waktu dan tenaga akan terkuras habis. 

Daripada mamak tantrum lebih baik cari sesuatu hal yang tetap bisa dilakukan beriringan dan sinergi. Tsahh…. Maka kami memutuskan untuk menyekolahkan Kakak Kalila di tempat yang membuatnya tetap bahagia ^.^ Gaya euy.

Pas banget pada tahun 2016, Sekolah Harmony Montessori baru mau dibuka pendaftaran untuk angkatan pertama. Bertepatan dengan momen kehamilan ketiga Kak Niken yang menginjak usia 37 minggu. Antara persiapan lahiran dan tetap membersamai anak pertama dalam berkegiatan. 

Setelah ikut 2 kali pelatihan, makin mantap lah hati ini untuk menyekolahkan kakak Kalila di sekolah dengan Metode Montessori yang terletak di daerah Cawang, Jakarta Timur itu. Ehm jarak dari rumah kami saat itu ke sekolah sekitar 5 km dan pastinya macet parah kalau pagi. 

Sebenarnya dari segi biayanya, bagi keluarga kami memang cukup merogoh kocek agak dalam tapi masih sangat worthed, dibandingkan sekolah lain dengan metode yang sama. Biaya SPP per bulan di sekolah lainnya bisa juta-jutaan dan uang masuknya bisa puluhan juta. OMG….bakalan nangis meraung-raung kayaknya akutu. 

Demi memilih sekolah yang baik menurut versi diri kita, ternyata harus berjuang bekerja lebih giat untuk bisa bayar SPP ^.^. Keputusan dalam memilih atau menentukan sekolah mana yang tepat untuk anak memang bukan hal yang mudah. 

Inilah mengapa rasanya wajar jika beberapa orangtua merasa cemas untuk mengambil keputusan yang tepat. Kembali lagi, memilih sekolah itu bukan persoalan mahal atau tidak, tapi lebih kepada apa yang bisa dilakukan agar orangtua bersinergi dengan pihak sekolah. 

Tidak juga sekadar menyerahkan pendidikan anak pada sekolah lalu tugas orangtua selesai. Maka penting atau tidak masuk sekolah itu tentu kembali pada visi misi masing-masing keluarga. 

Bagaimana tips menentukan sekolah terbaik untuk anak agar tidak seperti membeli kucing dalam karung? 

Sekolah terbaik
Sekolah terbaik

Memilih Sekolah Untuk Anak, Ini Caranya!

Big no!, kalau kalian hanya memilih sekolah berdasarkan prestige. Karena memilih sekolah itu harus dilakukan dengan hati-hati agar anak tidak patah semangat ketika sudah menjalaninya. Cari tahu alasan memilih sekolah yang tepat dan cerdas.  

Berdasarkan pengalaman Kak Niken, begini caranya: 

  • Faktor dalam diri anak

Kita bisa melihat dari segi usia dan potensi si anak serta kebutuhannya. Walau usia sama-sama 7 tahun tapi belum tentu anak A dengan B sama kebutuhannya. Bisa jadi si A sudah siap masuk sekolah dasar namun B belum siap dan butuh menunda satu tahun kedepan.  

Saat Kak Niken ingin memasukkan kakak Kalila ke Sekolah Dasar di usia 6.5 tahun tentu melalui jalur konsultasi lebih dahulu dengan kepala sekolah di TK. Ngobrol dan observasi itu kami lakukan sudah sejak satu tahun sebelum masuk SD. Jadi nggak tiba-tiba anaknya dicemplungin ke SD.  

  • Memiliki program yang terukur dan realistis

Jangan jual mimpi. Eh…. visi dan misi ini dapat dilihat dari metode yang ditawarkan oleh sekolah, program yang direncanakan serta output yang diharapkan. Biasanya aspek nilai (value) yang dikeluarkan pihak sekolah mencakup karakter, keagamaan, perilaku, kecakapan hidup dan kemandirian. 

Sekolah yang baik adalah yang mampu menggali, menemukan, mengembangkan dan mengoptimalkan seluruh potensi atau kecerdasan majemuk peserta didiknya. Memiliki program yang optimal dalam melatih kemandirian anak. 

Nggak melulu soal akademik. Apalagi kalau sekolah yang dengan bangganya memajang deretan piala di depan sekolah, biasanya akademik minded ^.^ Berprestasi penting, namun realistis dan memiliki kemandirian itu wajib ditanamkan. 

  • Terdapat sinergi antara peran guru dan orangtua 

Memilih sekolah untuk anak dengan cara pilihlah sekolah dengan guru-guru yang memesona dan menginspirasi. Tak hanya tampilan fisik mereka, tetapi perkataan, sikap dan perilaku yang bisa menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan efektif.

Penting juga mengetahui perbandingan jumlah guru dan siswa. Jika masih sekolah PAUD atau TK, biasanya memiliki perbandingan 4-5 siswa 1 guru. Untuk Sekolah Dasar 10-12 siswa dengan 1 guru. 

Disatu sisi adanya sinergi antara peran orangtua dan guru juga mencerminkan kolaborasi yang tepat bahwa orang dewasa punya andil dalam tahap pendidikan anak. Alasan memilih sekolah dan ambisi orang tua dalam menyekolahkan anak, jangan sampai menghancurkan masa depan mereka. 

  • Lingkungan sekolah dan penataan kelas

Disadari bahwa setiap anak berbeda, maka terkait juga dengan penataan kelas atau lingkungan sekolah. Biasanya akan ada anak yang aktif dalam bergerak, maka pastikan penataan lingkungan mampu memberikan ruang gerak untuk anak. 

Tak hanya itu, pastikan pula penataan kelas mengasyikkan dan aman bagi anak untuk belajar serta bermain. Tidak banyak barang atau printilan yang justru akan menjadi faktor distraksi bagi anak. 

  • Jarak sekolah 

Kalau soal jarak ini tentu masing-masing orangtua punya pertimbangan. Dulu Kak Niken membuat tabel positif dan negatif jika anak bersekolah di sekolah A, B atau C. Dibuat perbandingannya termasuk mengenai jarak. 

Jika jarak merupakan kendala di urutan ke 2 atau 3 dan seterusnya, dibandingkan kelebihan lainnya, maka tentukan yang paling sedikit mudharatnya. Tentu diimbangi dengan solusi mengenai jarak. 

Karena anak Kak Niken saat TK dan sekarang di SD jarak dari rumah ke sekolah sekitar 5 km, heu… heu. Karena sebenarnya memutuskan sekolah untuk anak dengan jarak tempuh yang terlalu jauh, bisa membuat anak kecil kelelahan di jalan. 

Mencari sekolah itu seperti mencari jodoh, gampang-gampang susah ^.^ Semakin banyak pilihan sekolah di depan mata, dijamin akan semakin bingung. Maka Kak Niken menyediakan waktu sekitar satu tahun untuk berkelana. Haha.

  • Faktor biaya

Kunci penting lainnya yaitu biaya. Alih-alih demi anak kita bersekolah ditempat yang terbaik, malah berhutang atau pinjam orangtua. Walau hal itu nggak ada salahnya juga.

Tapi, saat orangtua memutuskan anaknya bersekolah di tempat pilihan, konsekwensinya cek ricek lagi keuangan keluarga kita. Ini Kak Niken punya cerita sendiri soal biaya sekolah yang bikin, hmm…hmm… Berpikir dan mencari solusi.

Mulai dari biaya transportasi pulang pergi, biaya  pergaulan, sampai biaya sekolah harus diperhitungkan sejak awal.

Tips memilih sekolah terbaik
Tips memilih sekolah terbaik

Penting dilakukan sebelum memilih sekolah untuk anak

  • Tentukan kriteria sekolah

Sekolah merupakan investasi jangka panjang. Pilihan kita tak hanya soal biaya dan jarak tempuh (meski kedua hal tersebut tetap menjadi pertimbangan utama). Atau masih berkutat soal sekolah negeri dan sekolah swasta? 

Yang perlu digaris bawahi, penentuan kriteria sekolah haruslah didasari oleh kebutuhan dan minat anak, bukan  atas keinginan kita sebagai orang tua. Sekolah mana yang lebih bisa memberikan stimulasi dengan tepat. Mau mahal atau hrga standar pastinya ada plus dan minusnya. 

  • Browning…browsing…browsing

Satu tahun kami berkelana dari Jakarta hingga Malang untuk mendapatkan sekolah yang pas menurut versi kami. Browsing sana sini, bertanya pada teman atau kenalan dan lain sebagainya. 

Tak lupa untuk datang langsung dan melihat kondisi di lapangan agar kita tak terkecoh dengan blow up media sosial saja. Sharing antar teman atau kenalan juga bisa mendapat informasi yang baik atau buruk dari sekolah tersebut. 

  • School Shopping

Ini wajib dilakukan! Datangi dan bicara langsung, observasi lebih detail pada pilihan sekolah yang sudah kita catat. Banyak hal yang harus diamati saat school shopping ini, mulai dari jarak tempuh dari rumah ke sekolah, kondisi jalanan di pagi hari, lokasi dan lingkungan sekitar sekolah, gedung beserta fasilitasnya, serta suasana sekolah. 

Kita juga bisa melihat sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut. Galilah lebih dalam seputar visi, misi, serta nilai-nilai yang dianut sekolah tersebut, apakah sama dengan visi, misi, serta nilai-nilai yang kita terapkan?   

Sebagai orangtua, kita memang tidak bisa mengetahui tantangan apa yang akan dihadapi oleh anak dimasa datang. Apalagi anak-anak juga perlu diajak untuk berpikir kritis sejak dini. Dibutuhkan lingkungan dan sekolah yang dapat membentuk anak menjadi pembelajar sejati yang akan terus belajar sepanjang hidupnya. 

Maka nggak salah kalau memilih sekolah untuk anak adalah investasi sepanjang masa yang dilakukan dengan cara cerdas sesuai kebutuhan.  

 

23 thoughts on “Tips Cerdas Memilih Sekolah Untuk Anak, Ini Kuncinya!”

  1. ah sepakat,pilih sekolah anak emang perlu banyak pertimbangan ya kak
    klo aku pertama ya pilih sekolah yg sesuai visi keluarga, jarak dan pastinya biaya

    Reply
  2. Ternyata milih sekolah nggak bisa sembarangan ya kak. Orang tua harus punya kriteria tertentu yang juga proaktif mendukung minat dan bakat anak. Bisa juga penting sih, nggak mungkin kan harus memaksakan anak sekolah di sekolah mahal kalau pendapatan orang tua nggak mendukung.

    Reply
  3. Menentukan sekolah untuk anak memang gampang susah. Saya juga observasi dalam memilih sekolah SD. Kurang lebih 1 tahun. Namun, pas masuk TK nih yg asal masuk.. wkwk.. waktu itu masih jadi ortu newbie soalnya Kak. . Hahaha.. tapi alhamdulillah kebetulan banget masuknya ke TK yg bagus.

    Reply
  4. Setuju banget dengan kalimat terakhir, sekolah itu untuk investasi. Makanya harus bener-bener dipilih yg berkualitas ya. Terima kasih utk sharingnya

    Reply
  5. wah sekolah di montessori sangat bagus untuk anak yang belum ke sekolah dasar karena meningkatkan saraf motorik dan psikisnya. Keren nih sekolahnya

    Reply
  6. Jangan lihat usianya saja ya, memperhatikan dianya sudah siap masuk sekolah dasar atau nggak itu yang utama. Agar si anak lebih fokus dan semangat buat belajar di sekolah

    Reply
  7. Sekarang pendaftaran baru cepat ya, Mbak. Dulu zaman saya itu, paling cepat sebulan sebelum sekolah.
    Dan memang faktor penting itu, dari anak dulu, apakah sudah mau sekolah atau belum. Apalagi kalau masih TK atau bahkan Pra TK, karena walau umur saja, tidak semua anak sama keinginan sekolahnya.

    Reply
  8. Wow 5 km. Berarti 10 km pp ya. Kalau kata anakku, “Mami, nanti aku tua di jalan.” 😀 Yang paling enak memang kalo ada sekolah yang cocok ( sistemnya, gurunya, biayanya, dll) di deket rumah.

    Reply
    • Bener ih cari sekolah anak banyak pertimbangannya. aku dulu nyari sekolah anak terutama yang gampang anter jemputnya. Terus sekolah mahal juga belum tentu bagus. Harus survei dulu sih.

      Reply
  9. Aku setuju soal memilih sekolah untuk anak juga mempertimbangkan jarak. Sekolah bagus dan mahal, tapi jarak tempuhnya lebih dari 1 jam, buatku kasihan untuk anaknya. Bolak-balik berarti 2 jam. Apalagi untuk PAUD.
    Duh…aku harus bikin list nih dan mapping sekolah-sekolah di sekitar rumah.

    Reply
  10. Setuju dengan bagian di mana peran orang tua dalam pendidikan itu dianggap penting, nggak sekadar menitipkan anak untuk sekolah tetapi harus mengambil peran dalam proses pendidikan tersebut

    Reply
  11. Nah, saya setuju dengan bagian di mana peran orang tua dalam pendidikan itu dianggap penting, nggak sekadar menitipkan anak untuk sekolah tetapi harus mengambil peran dalam proses pendidikan tersebut

    Reply
  12. Semangaaattt yookk mamak #PejuangSPP
    Aku dari SD-SMA jarak sekolah-rumah 10km+ hehe, baru pas kuliah yang nggak terlalu jauh #loh

    Reply
  13. Pendidikan anak memang hal. Yang utama. Penting banget bagi orang tua untuk memilih yang terbaik dan mempertimbangkan apakah sudah seharusnya sekolah atau tidak

    Reply
  14. School shopping ya Mbak… noted. Mungkin kl di zaman pandemi yang membatasi ruang gerak, bisa dengan browsing-browsing, dan browsing ya. Tfs Mbak

    Reply
  15. Bener ih cari sekolah anak banyak pertimbangannya. aku dulu nyari sekolah anak terutama yang gampang anter jemputnya. Terus sekolah mahal juga belum tentu bagus. Harus survei dulu sih.

    Reply
  16. saat pandemi kayak gini yang membuat anak-anak harus sekolah dari rumah malah bikin orang tua putar otak, cari metode mendampingi anak dirumah soalnya mereka kadang malas-malasan karena sudah rindu sekolah

    Reply
  17. Kalo memilih sekolah di masa pandemi gimana mba? Jarak sekolah dan fasilitas sekolah seolah ga relevan lagi. Hiks. Apalagi kurikulum online kadang berbeda dg kurikulum offline. Aku aja masih maju mundur untuk masukin anakku ke TK. Antara perlu dan ga perlu

    Reply
  18. Kalau ku sih biasa survey lapangan saat proses KBM berlangsung. Jadi langsung tahu bagaimana metode belajar, lingkungan sekolah sekaligus kondisi siswanya. Tapi berhubung sekarang lagi pandemi, ya terpaksa harus cukup ngandelin info dari orang-orang terdekat yang bisa dipercaya

    Reply

Leave a Comment