Peluk dan Doakan dia

Daftar Isi

Peluk dan doakan dia? Bagaimana bisa. Sedangkan hati ini sudah cukup terluka. Akan semua sikap dan perlakuannya. 
Iya….Aku memang marah….
Aku marah dan merasa tak ikhlas atas perlakuan seseorang. Tapi sungguh, dalam lubuk hati paling dalam…aku tak bisa benar-benar “marah”. Karena aku tahu ini adalah salah satu bentuk emosi yang tak terkendali.
Antara ikhlas dan tidak, hati ini ingin memaafkan semua kesalahan orang itu padaku. Padahal aku sadar aku tak boleh marah. Tapi…???!!! Allah begitu sayang dengan menunjukkan rahman dan rahim-Nya padaku. Sabtu, 050708.
peluk dan doakan dia
peluk dan doakan dia
(pic. by okezone)
Aku bertemu bunda Evi, perempuan baik yang mempunyai sejumlah talenta (bakat seni, berdagang, dan lainnya – red), di salah satu gedung di daerah Cilandak. Dia mendekatiku. Seperti biasa, kami saling bertegur sapa dan bertukar informasi.
Ceritanya mengalir bak air sungai yang mengalir ke hulu. Dia selalu bilang bahwa hidup itu harus disyukuri dan dinikmati penuh ikhlas. Setiap ceritanya selalu disisipi kalimat syukur pada Allah atas apa yang sudah dicapainya sekarang. Tiba-tiba sambil tersenyum bunda Evi berkata, “Bunda tahu kamu anak baik.
Bunda tahu itu.” Sambil memelukku, dia bilang, “Doakan orang-orang yang telah menyakitimu. Tatap wajahnya sambil doa-kan dia, walau hanya dari jauh.” Seketika aku terenyuh. Sekelebat kejadian tiga hari lalu terekam jelas di pikiranku. Aku sadar bahwa dia memang pernah bercerita jika dia bisa “tahu” keadaan seseorang.
“Peluk orang yang sedang mendzholimi kamu sambil tersenyum semanis mungkin. Namun,jika dia laki-laki, tegur dengan ramah sambil menatap wajahnya, ucapkan salam kemudian doa-kan dia.”Insya Allah, Allah kasih kebaikan buat dia dan buat kita yang mendoakan.”
Saat itu, aku hampir saja tak bisa menahan linangan air mata yang menggenang di pelupuk mata. Ya Rabb…Kau telah utus bunda Evi untuk mengingatkan aku atas kehkilafanku. Atas ketidakikhlasanku. Atas kebimbangan hatiku untuk segera memaafkan kesalahan seseorang.
Kini aku bertekad, jika suatu hari nanti aku bertemu dengan orang yang telah dzholim padaku, aku akan tersenyum, bertegur sapa dan mendoakannya. Dengan begitu aku tak akan mengingkari apa yang sesungguhnya ada dalam hati setiap manusia. “Kebaikan dan saling memaafkan tanpa adanya emosi.”

Leave a Comment