4 Tips Pendidikan Politik Pada Anak

Pendidikan politik pada anak usia dini terkait dengan tahap penyelesaian konflik. Ada 4 tahapan yang harus tuntas dilalui oleh setiap orang agar mereka siap menghadapi masa depan. Karena pada dasarnya pendidikan politik terkait dengan praktek kehidupan sehari-hari yang diasah sejak usia dini.

Saat anak pertama saya sekolah di PAUD ada seorang teman yang tiba-tiba merebut mainannya. Bagaimana reaksi kakak Kal, dia hanya diam sambil menunjukkan raut wajah sedih. Saat itu, anak perempuan berusia 3 tahun itu belum berani mengutarakan kalimat penolakan atau pembelaan.

Saat kakak Kal sedang bersedih dalam pelukan sambil saya elus kepalanya, temannya itu justru berkata, “Kal, kamu cengeng ih!” Kemudian melempar mainan yang tadi direbutnya dari Kakak Kal. Sambil berkata dengan suara lantang, “Tuh ambil. Kamu mah pelit!”

Jleb…. Raut wajah saya berubah dan tak bisa di sembunyikan. Bingung? Tentu saja. Siapa yang salah?  Kami malah menjadi seperti tertuduh. Tak lama kemudian orangtua anak tersebut datang sambil meminta maaf atas sikap anaknya itu.

Komunikasi! Satu kata yang patut digaris bawahi. Merupakan bagian penting yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Bahkan ketika bayi baru lahir pun sudah diberi stimulus berupa komunikasi untuk menyampaikan makna agar mudah dipahami.

Bicara soal komunikasi sama juga bicara tentang pendidikan politik. Kenapa? Sejak kecil kita diajarkan untuk mampu berkomunikasi dengan cara yang tepat sesuai tahapan perkembangan.  Jangan ngaku paham tentang ilmu politik kalau masih banyak tahap perkembangan kita yang bolong-bolong. Alias tahap perkembangan yang tidak tuntas.

Pendidikan politik pada anak
Pendidikan politik pada anak

Kak Niken ingat beberapa kali pernah bertemu dengan Sandiaga Uno, karena dasarnya keluarga dari pakde juga berkecimpung di ranah politik. Terakhir bertemu dan ngobrol, saat Sandiaga menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Beliau menghadiri pernikahan kakak sepupu saya di daerah Tanjung Priok. Tutur kata salah satu pemimpin Jakarta itu terstruktur, pembawaannya juga humble.

Kita bisa lihat sosoknya sebagai pemimpin, Ia handal dalam bertutur kata dengan santun. Kak Niken jadi teringat mengenai cerita sejenis yang ditulis oleh salah seorang teman di salah satu media nasional, Dakwatuna. Erwyn Kurniawan bercerita mengenai pertemuannya dengan dua sosok politisi ternama yang memiliki kemiripan dalam kesantunan tutur kata.

Soal tutur kata santun, tentu berkaitan erat saat mengajarkan pendidikan politik pada anak usia dini. Apakah tahap perkembangannya sudah sesuai? Bagaimana peran orangtua untuk menuntaskan setiap tahapan yang dilaluinya itu? Sehingga suatu saat anak-anak akan menjadi pribadi yang baik karena mampu menyelesaikan konflik yang muncul.

Menurut Dr. Pamela Phelps, Ph.D, Direktur Creative School Florida yang sudah lebih dari 40 tahun menekuni bidang pendidikan anak usia dini. Ada 4 tahap dalam penyelesaian konflik sesuai tahap perkembangan anak.

4 Tahap Penyelesaian Konflik Pada Anak

  1. Pasif (passive)

Masih ingat fase saat kita atau anak kita masih bayi? Pada fase ini anak hampir tidak melakukan kontak sosial dan komunikasi dengan lingkungannya. Tahapan ini biasanya akan dialami oleh para bayi yang belum bisa berbicara dan berbuat banyak hal. Terlebih lagi dalam menyelesaikan masalahnya.

  1. Serangan Fisik (Physical Aggression)

Biasanya terjadi pada anak usia praTK (sekitar 2-3 tahun). Diusia ini mereka seringkali menyelesaikan masalah dengan  melakukan serangan fisik berupa: tantrum, berteriak, menggigit, memukul atau melempar benda. Anak belum memiliki perbendaharan kata-kata untuk mengatasi persoalannya.

Sering terjadi saat anak menginginkan mainan, ia akan langsung merampas. Atau ketika marah pada temannya, akan langsung memukul. Hampir mirip seperti yang tadi diceritakan oleh Kak Niken diawal.

  1. Serangan Kata-kata (Verbal Aggression)

Ingat masa anak-anak diusia 4-6 tahun? Nah, nggak jauh-jauh deh dari keseharian mereka saat bersekolah. Pada usia ini serangan fisik akan berkurang karena mereka mulai memahami kekuatan kata-kata. Istilahnya naik tingkat ke tahap “serangan kata-kata”. Contohnya “Aku nggak mau main sama kamu, soalnya bajumu jelek!” atau “Kamu jangan ikutan main bareng ya, aku nggak suka!”

  1. Bahasa (Langguage)

Pada tahap ini seorang anak sudah dapat menyelesaikan masalah dengan bahasa. Menggunakan kalimat yang positif, tidak kasar dan menghakimi. Penggunaan bahasa seperti ini merupakan cermin dari kematanga dan pengendalian emosi yang baik. Tentu peran orangtua dan guru sangat berperan penting.

Anak-anak yang akan masuk sekolah dasar sebaiknya sudah sampai pada tahapan bahasa untuk mengatasi persoalannya. Itulah kenapa ada patokan usia untuk masuk sekolah dasar, usia 7 tahun. Harapannya seperti yang dijelaskan diatas. Contoh: ketika seorang anak sedang bermain dan kesenggol oleh temannya hingga terjatuh.

Anak akan berkata, “Tadi aku terjatuh dan sakit. Lenganku luka” Kemudian temannya berkata, “Maafkan aku, tadi tidak sengaja menyenggolmu.” Disitu masalah selesai dan kedua anak itu melanjutkan kegiatannya masing-masing.

Baca juga: Toleransi pada anak

Orang dewasa yang menjadi pemimpin dengan baik bisa dilihat salah satunya dari sudah tuntasnya tahapan perkembangan masa kecilnya. Tercermin dengan penggunaan kata dan kalimat yang menandakan selesainya tahapan bahasa atau language. Tidak akan terdengar suara cacian, makian atau kata-kata kasar dan menyerang selama masa kepemimpinannya.

Karena setiap tingkatan tahap sangat berhubungan dalam semua bidang kehidupan. Artinya jika setiap tingkatan itu tertangani dengan baik oleh manusia, maka akan terjadi keseimbangan pola pikir dan psikologis. Itulah pentingnya pendidikan politik dimulai dari rumah.

Mengajarkan pendidikan politik pada anak
Mengajarkan pendidikan politik pada anak

4 Cara Mengenalkan Pendidikan Politik Pada Anak

  1. Ajarkan anak untuk mendengar. Kebayang ya kalau banyak orang hanya ingin didengar namun sulit untuk mau mendengarkan?
  2. Berpikir kritis. Berlaku ketika menanggpi suatu permasalahan. Untuk dapat berpikir kritis tentunya harus membekali diri dengan pengetahuan yang benar
  3. Ajari anak untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya. Hal ini terkait jug perilaku untuk bicara jujur dan benar.
  4. Lakukan sesuai prosesnya. Penting banget dipahami oleh anak menyangkut proses ini. Agar mereka mampu mendahulukan proses daripada hasil, sehingga terhindar dari cara yang kurang baik dalam mendapatkan sesuatu.

Baca juga: Ajarkan anak berpikir kritis

Itulah pentingnya pendidikan politik pada anak sebagai generasi muda. Bagaimana denganmu Moms, punya cara apa saja untuk mengenalkan hal tersebut pada anak? Share yuk!

 

 

40 thoughts on “4 Tips Pendidikan Politik Pada Anak”

    • Iya mba. Nggak kebayang kalau generasi2 akan datang jadi pemimpin tapi sering mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Hikss… Kudu tuntas tahap perkembangannya.

      Reply
  1. Udah deg-degan, kirain ngajarin politik kepartaian hehe. Iya ya, bener…negosiasi juga adalah bagian dari berpolitik. Setuju semua sama tipsnya, berlaku jg pada kehidupan nyata di konteks yang lainnya.

    Reply
    • Wah ini bahan bacaan yang penting banget buatku. Apalagi putri kecilku menjelang 3 tahun, awal tahun nanti. Makasih ya atas penjelasan yang gamblang sekali. Awalnya kupikir tadi pendidikan politik yang berhubungan dengan partai dan kenegaraan hehehehe

      Reply
  2. Jadi inget ponakanku nih mba, dia baru 3 tahun, menyerang pakai pukulan dan sedikit kata-kata. Baru sadar ada tahapannya setelah baca di sini.
    .
    Setuju sih anak harus dibiasakan mendengar karena repot kalau cuma harus dia yang didengarkan jadinya nanti egois dan ingin menang sendiri, serem. Makasih tips-tipsnya ya mba, kucatetin buat bekal 🙂

    Reply
  3. Wah baru kenal dengan politik sejak dini yang begini mba niken, terimakasih wawasannya ini baru banget buat saya. Si kecil masih 20 bulan, harus dikenalkan hal-hal seperti ini memang yaa

    Reply
  4. Ini nih pentinga banget diterapkan kak, soalnya anakku yang usia 11th dan 8th suka banget berantem kadang berantem manja lama2 jadi saling jewer dll
    Aq jadi emaknya yang suka darah tinggi liatnya

    Reply
  5. pendidikan politik sejak kecil bisa dari hal2 yang sederhana saja.. salah satunya adalah penyelesaian konflik. anak perlu terpapar dengan beragam konflik dan didukung agar berupaya bisa menyelesaikannya 🙂

    Reply
    • Kita nggak bisa bilang wajar, karena itu bukan soal wajar atau tidak. Iya orangtua berperan sangat penting. Coba baca-baca lagi tentang tahap perkembangan menurut beberapa paham pendidikan. Hehe

      Reply
    • dalam penggunaan bahasa mak. contohnya misal dikaitkan dengan dunia politik, perhtikan kalau orang yang yang tahapannya nggak tuntas, maka menyelesaikan masalah dengan bahasa yang juga kurang baik. Atau marah-marah, dll.

      Tahap diatas harus tuntas tak hanya terkait dalam dunia politik saja, bisa dalam aspek kehidupan apapun.

      Reply
  6. Aku malah ngga kepikiran loh kak untuk mengajarkan politik sejak dini. Padahal esensinys gak serumit itu ya. Cukup di ajarkan dari hal-hal sederhana seperti berfikir kritis dan mendengarkan orang lain berbicara.

    Reply
    • Dengan bahasa yang lembut dan santun dapat menyelesaikan permasalahan, tips yang mesti ditanamkan ke anak sejak kecil, aku tuh mesti belajar lagi menjadi contoh yang lebih baik.

      Reply
  7. Makasih sharingnya kak niken,
    Anakku jg gitu nih dirumah, bukan jadi anak ygcmenyerang tapi diserang.

    Kadang ada anak lain yg seusianya suka melemparkan kata kasar, meledek, dan mengerjai.

    Si kakak urung membalas jadi paling nangis atau adu argumen diluar. Kadang sedih sih, kalau aku ajarkan terus diam tidak perlu digubris katanya akan jadi anak pecundang. Jadi aku harus gimana

    Reply
  8. Anakku selalu ku kasih tau kalau emang ada anak yang suka ngegodain dia dan iseng bilang baik-baik atau bilang ke bu guru. Setiap hari selalu aku ajak ngobrol tentang gimana di sekolah dan ada gak sih temannya yang jahil, lalu selalu aku kasih pemahaman juga.

    Reply
  9. Wah aku belum pernah ngajarin anakku kenal politik, eh tapi ini maksudnya bukan politik perebutan kekuasaan gtu kan? Msh pd cilik jg jd blm pihim xixixi
    Kalau di rumah paling yg sederhana2 aja kyk misalnya minta anak segera menuntaskan makan, kalau yang udah selesai makan duluan nanti boleh makan camilan atau misal boleh nonton tipi dia yang tentuin channelnya haha, ini masuk gk sih 😀

    Reply
  10. waaah bener banget ini SID sedang di serangan kata-kata, emang masanya ya.
    huhu … dia ikutan pakai kata yang dia dengar dari teman-temannya. Trus sekarang itu kek geng-gengan padahal masih bocah >,<

    Reply
  11. hmmmmm i see….
    jadi inget dulu di sekolahan juga ada yang ngomong “ah main sam akamu mah kamu ga ngerti apa2” uhhh cedihhh dengernyaa…. 🙂 InsyaALlah aq mau nerapin yang mak niken bilang 4 cara mengenalkan politik pada anak,,

    Reply
  12. Aku belum kepikiran soal pendidikan politik pada anak hehe. Simple way tapi memang penting. Dan ak baru tahu soal 4 tahap manajemen konflik pada anak.

    Reply
  13. Bacanya bahas politik, aku kira akan berat ternyata oh ternyata soal parenting hehehe. Tapi saya setuju dengan tahapan mengenalkan politik sama anak-anak itu. Aku pun menerapkan 4 tahapan itu.

    Reply
  14. Duh aku kira pendidikan politik tuh kayak gimana mbak bayanginnya udah ilmu pemerintahan aja, maklum aku belum punya anak. Ternyata mau mendengarkan orang lain juga temasuk salah satunya ya, kan kadang ada tuh anak yang dibilangin nggak mau. Kayak aku waktu kecil. Hahaha!

    Reply
  15. Waah saya mencermati tiap kalimat yang ditulis kak Niken. Bener banget nih. Komunikasi penting sekali bukan hanya untuk membangun hubungan dengan pasangan, tapi juga kepada anak (kalau sudah punya). Karena dengan komunikasi itulah kita bisa saling memahami. Dan namanya anak, harus diajarkan dengan diberi pengertian.

    Umik saya selalu berkata, “ini keluarga demokratis.” Dan memang benar, saya merasakan bagaimana abi dan umik selalu memberikan kesempatan kepada kami anak-anaknya, untuk berpendapat menyampaikan pikiran kami.

    Terima kasih atas tulisannya kak 😀

    Reply

Leave a Comment