5 Kunci Utama Pola Asuh Anak Di Masa Pandemi

Pola asuh anak di masa pandemi Covid-19 dinilai rentan memicu gesekan antar anggota keluarga. Sehingga makin memunculkan prinsip parental control yang kuat tapi sesungguhnya lemah.

Menjaga suasana hati yang baik tidak mudah saat harus menghadapi anak dengan berbagai macam tingkah lakunya. Sering kali, akhirnya orang tua menghardik, “Sudah, berhenti!”. Tentu kondisi demikian lambat laun akan mempengaruhi pola pengasuhan pada anaknya.

Tak dipungkiri, kak Niken sebagai seorang ibu juga pernah melakukan hal diatas. Karena pada situasi pandemi segala aktifitas sehari-hari menjadi terbatas, tak terkecuali aktifitas anak.  Sangat wajar untuk merasa stres dan kewalahan atas kondisi pandemi COVID-19 ini.

kondisi kesehatan mental ibu
pict. cleanpng

Iseng-iseng berselancar di dunia maya untuk mencari informasi mengenai prinsip pengasuhan. Ternyata ada berita yang cukup mengejutkan. Tercatat ada 407 anak telah menjadi korban kekerasan selama pandemi COVID-19 merebak di Indonesia.

Angka yang cukup fantastis. Data tersebut berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) yang diumumkan Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati seperti dilansir Tirto (1/5/2020).

Hal itu menandakan, aktivitas keluarga yang banyak menghabiskan waktu di rumah juga dapat memicu gesekan. Imbasnya pada pengelolaan pola asuh anak. Antara kondisi saat ini, cara memaksimalkan sumberdaya manusia hingga penguatan misi dan visi keluarga yang belum maksimal.

pola asuh dalam keluarga
pola asuh dimasa pandemi

Pola asuh merupakan sikap orangtua dalam berinteraksi, membimbing, membina dan mendidik anaknya. Dengan harapan menjadikan anak sukses menjalani kehidupan. Menurut Diana Baumrind (1967, dalam Santrock, 2009)

membagi pola asuh ke dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu:

  1. Pola asuh otoriter (authoritarian parenting)

Orangtua dengan tipe pola asuh ini biasanya cenderung membatasi dan menghukum. Orangtua dengan pola ini sangat ketat dalam memberikan batasan dan kendali yang tegas terhadap anak-anak.

Komunikasi verbal yang terjadi juga lebih satu arah. Umumnya menilai anak sebagai obyek yang harus dibentuk oleh orangtua yang merasa “lebih tahu” mana yang terbaik bagi anak-anaknya.

Anak yang diasuh dengan pola otoriter sering kali terlihat kurang bahagia. Ketakutan dalam melakukan sesuatu karena takut salah, minder, dan memiliki kemampuan komunikasi yang lemah.

Contoh orangtua dengan tipe pola asuh ini, mereka melarang anak laki-laki bermain dengan anak perempuan, tanpa memberikan penjelasan ataupun alasannya.

  1. Pola asuh demokratis/otoritatif (authotitative parenting)

Pola pengasuhan dengan gaya otoritatif bersifat positif dan mendorong anak-anak untuk mandiri. Orangtua tetap menempatkan batas-batas dan kendali atas tindakan mereka.

Orangtua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, serta pendekatan yang dilakukan orangtua ke anak juga bersifat hangat. Pada pola ini, komunikasi yang terjadi dua arah dan orangtua bersifat mengasuh dan mendukung.

Anak yang diasuh dengan pola ini akn terlihat lebih dewasa, mandiri dan ceria. Mampu mengendalikan diri, beriorientasi pada prestasi, dan mampu mengatasi stresnya dengan baik.

  1. Pola asuh permisif (permissive parenting)

Orangtua dengan gaya pengasuhan ini tidak pernah berperan dalam kehidupan anak. Anak diberikan kebebasan melakukan apapun tanpa pengawasan dari orangtua. Orangtua cenderung tidak menegur  atau memperingatkan, sedikit bimbingan, sehingga seringkali pola ini disukai oleh anak (Petranto, 2005).

Orangtua dengan pola asuh ini tidak mempertimbangkan perkembangan anak secara menyeluruh. Anak yang diasuh dengan pola ini cenderung melakukan pelanggaran-pelanggaran karena mereka tidak ammpu mengendalikan perilakunya, tidak dewasa, memiliki harga diri rendah dan terasingkan dari keluarga.

tipe pola asuh
pict. cleanpng

Nah, diantara ketiga bentuk pola asuh diatas, dimanakah posisimu saat ini?

Saat dimana pembatasan sosial akibat pandemi berlangsung. Interaksi dalam keluarga berubah karena menghabiskan waktu lebih lama di rumah. Maka disitulah sebaiknya kita perlu bersikap adaptif. Menyikapi berbagai tantangan yang muncul, termasuk ketika mengasuh anak.

Baca juga: Lacak Kekuatan Seorang Ibu

Prinsip pengasuhan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua

  1. Menjaga potensi baik

Yang perlu dilakukan yaitu menjadi teladan, mengingatkan dan memperbaiki atau membimbing anak untuk berada pada jalur yang benar.

  1. Kasih sayang

Kelembutan dan kasih sayang adalah dasar penanaman dan pembenahan akhlak anak.

  1. Sabar

Maksudnya agar tidak tergesa-gesa dalam menjalani proses mendidik anak. Karena melalui kesabaran dan kasih sayang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh cinta kasih.

  1. Konsisten dan kongruen

Konsisten bukan berarti kaku, tetapi kreatif menggunakan berbagai cara agar tujuan tercapai. Juga pastikan sikap dan perilaku orangtua kongruen alias selaras dengan nilai yang dibangun.

Dalam perjalanannya seringkali terjadi kesalahan dalam pengasuhan. Seperti yang ditulis dalam buku “The Secret Of Enlightening Parenting” karya Okina Fitriani dan kawan-kawan. Padahal bukahkah kita diperintahkan untuk mendidik sesuai zamannya?

prinsip pengasuhan
prinsip pengasuhan

Contoh kesalahan pengasuhan yang umum terjadi

  1. Lantai yang nakal

Istilah ini sering kita dengar. Bahkan sampai saat ini kak Niken masih sering melihat dan mendengar ada orangtua yang “menyalahkan benda mati atau hal lain” ketika anaknya jatuh. Disitu, anak tidak diajarkan mengambil tanggungjawab.

  1. Labelling

Menempelkan kata sifat tertentu sebagai identitas. Bisa berupa negative atau positive labelling.

  1. Pelit melakukan empat hal ajaib

Diantaranya: meminta maaf, berterimakasih, mnunjukkan kasih sayang dan memuji. Buatlah catatan kebaikan agar memudahkan kita bersyukur.

  1. Fokus pada kekurangan

Biasanya disampaikan dalam bentuk celaan terhadap anak.

  1. Berbohong

Kesalahan serius yang sering dianggap sepele. Berjanji tapi di ingkari merupakan pelajaran kebohongan yang akan selalu diingat anak.

Baca juga: Tips Kompak Bareng Pasangan

Sebagai orangtua pada dasarnya menginginkan yang terbaik bagi anak-anak. Namun tanpa sadar kak Niken juga melakukan kesalahan dalam penerapan pola asuh. Tentu hal-hal seperti itu berpotensi mengalami stress.

Beberapa waktu lalu kak Niken dapat info dari salah seorang teman untuk download aplikasi Halodoc. Bisa di download di App Store dan Google Play. Sehingga lebih memudahkan.

Ternyata Halodoc sudah menghadirkan kanal khusus terkait psikologi klinis. Untuk membantu penanganan kesehatan mental di tengah pandemi ini. Startup teknologi kesehatan ini telah menggaet sebanyak 500 psikolog dan psikiater terdaftar.

Woww… nggak perlu malu untuk konsultasi langsung dengan ahlinya melalui Halodoc. Kak Niken tinggal menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Dengan adanya kemudahan untuk konsultasi dan menenangkan diri, kita mampu memaksimalkan nilai positif yang dibangun bersama keluarga di rumah. Momentum kebersamaan anak dan orang tua saat ini menjadi kunci utama.

pola asuh pandemi
pola asuh pandemi

Kunci Utama Pola Asuh Anak di masa Pandemi

Orangtua harus bisa menjadi komunikator handal. Kerena komunikasi memiliki peran penting sebagai pengantar pesan. Prinsipnya dengan memahami prinsip berikut: menentukan tujuan, membangun kedekatan, mengasah ketajaman indera serta menjadi kreatif.

Pola bahasa persuasif. Komunikasi yang bertujuan untuk mengubah atau memengaruhi kepercayaan, sikap, dan perilaku seseorang. Sehingga bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Membimbing menuju solusi. Solusi melibatkan tindakan dan proses belajar sehingga mampu meningkatkan konsep diri dan kemandirian.

Mengajari anak menyusun tujuan. Tujuan haruslah jelas. Terdefinisi dengan baik, diri sendiri sebagai pelakunya, disusun dengan kalimat jelas, selaras dengan nilai-nilai.

Proses membimbing. Bersama-sama melalui prosesnya untuk menemukan solusi atau keluhan yang sedang dihadapi. Memotivasi dengan proses komunikasi yang tepat.

Tidak ada yang salah atau benar dari ketiga pola asuh yang tadi sudah diulas. Lakukan yang paling efektif secara bergantian sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Tentunya dengan mengacu pada kunci utama pola asuh anak dimasa pandemi.

 

 

 

20 thoughts on “5 Kunci Utama Pola Asuh Anak Di Masa Pandemi”

  1. kak niken, kalau pola asuh anak selama pandemi gini buat mengontrol jaga jarak gimana yaa mba ? soalnya buat jaga jarak antara anak dengan orang yang tua (misal kakek-nenek tetangga) lumayan susah.

    Reply
    • Mengenai jaga jarak dengan orang terdekat seperti om, tante, kakek, nenek atau saudara memang nggak bisa semulus perkiraan kita. Karena pertemuan itu pasti ada *eeeaaaaa
      Kuncinya sering2 edukasi ke anak do and don’t pada masa pandemi ini. Proteksi ke keluarga sendiri lebih dulu, kemudian bicarakan juga dengan anggota keluarga lainnya. Otomatis pola asuh dari 3 bentuk diatas akan saling kolaboasi.

      Reply
  2. well, aku kira dengan bisa menjalanin selama 3 bulan kemarin semester genap udah berhasil menjadi gurunya anak di rumah, ternyata saat naik kelas ke kelas4 dan pelajarannya makin beragam disitulah kumerasa belum ada apa-apanya hahaha

    Reply
    • Wkwkwkw… tantangan itu nyata kakaaakkkk. Tapi seru ya dengan beragam tantangan anak sekolah di rumah. KAdang kita yang harus menarik nafas dalam dan ingat lagi, bahwa kunci anak ketika di rumah itu adalah, bagaimana ortu tetap bisa menjadi seorang teman untuk berbagi dan merasakan kebahagiaan
      *Tsaahhh

      Reply
    • Walau kadang kita sebagai ibu ya naik turun juga yaaaa dalam kondisi sepeti ini. Tantangan seru wkwkw. Anaknya usia berapa mbak?

      Reply
  3. sebelumnya makasih banget kak niken udah sharing, kebetulan sih saya masih baru menjadi orang tua, nah kadang agak susah nih kak niken untuk selalu menyalahkan benda mati, saya sih berusaha untuk tidak menyalahkan benda mati tapi kalau kakek neneknya nih kak niken yang susah karena kayak sudah terbiasa gitu loh kak huhuhu, semoga saya bisa menerapkan pola asu anak di rumah dengan baik terutama gak menyalahkan benda mati

    Reply
  4. Aduh, aku belum punya anak jadi belum tahu banyak tentang pola asuh. Ini bisa aku jadikan pembelajaran sih, alhamdulillah dapet ilmu gratis lagi dari blog kakak.

    Reply
  5. Hasilnya mengejutkan ternyata yah kak, aq pikir semua baik2 aja krn aq merasa efek pandemi ini buat bonding aq jd lebih baik ke anak2, twrnyata gak semuanya begitu yah

    Reply
    • Kadang sudah diusahakan seperti yang Kak Niken tulis, apalagi masa pandemi quantity time jauh lebih banyak. Tapi yang lebih sering out of control Kak, huaaa.

      Tapi setuju banget kalo komunikasi dengan anak baik rumah jadi nyamannn banget dirasa.

      Reply
  6. Ke dokter aja kadang orang menunda kalau enggak penting-penting amat ya, karena mengurangi aktivitas di luar rumah. Apalagi ke psikolog, biasanya lebih menahan diri lagi karena belum semua orang merasa butuh. Tapi dengan adanya fasilitas dari Halodoc ini jadinya lebih mudah ya berkonsultasi.

    Reply
  7. Semoga aku gak termasuk orangtua yang melakukan kekerasan pada anak saat SFH ini, tapi emang gemes banget sih ngajarin anak-anak sendiri ya. wkwk… Kalau sama gurunya kan mereka segan. Sama orangtua, suka nanti-nanti aja disuruh belajar.

    Reply
  8. Nice article kak Niken..saya setuju dengan paragraf pertama kalo pola asuh anak di saat pandemic covid-19 seperti sekarang ini sangat rentan memicu gesekan antar anggota keluarga. Menjadi tantangan tersendiri sekaligus pemacu buat kita untuk bisa tetap menjaga emosi. Beruntungnya ada layanan halodoc ini ya kak sebagai sarana buat kita mamak2 untuk sedikit ‘melepaskan beban’ dengan berkonsultasi dan dapet masukan positif dari ahlinya

    Reply
  9. Walaupun judulnya pola asuh anak di masa pandemi, tapi ini bisa diterapkan di hari-hari biasa ya kan. Soalnya ibu-bapak ku menerapkan pola asuh demokratis kak. Ya walaupun akunya gak ceria karena sifatku emang pemalu dan pendiam. Tapi memang mereka memberikan kebebasan namun tetap dalam pengawasan.
    .
    Aku mau tandain ilmu parenting dari sini buat bekal aku jadi ibu di masa depan (jodoh mana jodoh). Weh jadi di halodoc ada layanan psikologi klinis juga ya. Duh auto ngepoin kalau gini mah. Makasih infonya

    Reply
  10. bener banget kak.
    sampai sekarang aku masih sering denger : lantainya nakal.
    dulu temen ku pernah cerita. ada kerabat dia yang mengkombinasikan otoriter dan permisif
    jadi dari senin sampai jumat anak di didik dg pola asuh otoriter, sedang pas weekend dengan permisif.
    sayangnya pas weekend anak2 bebas melakukan apapun, termasuk mencaci orgtuanya.
    well makasih sharingnya kak. bisa buat bekal aku 🙂

    Reply

Leave a Comment