Sampahku, Tanggungjawabku! Benarkah?

Sampahku tanggungjawabku. Pernah dengar kalimat tersebut? Gimana menurut kalian?

Masalah sampah mungkin tak akan ada habisnya untuk dibahas. Karena setiap hari kita memproduksi sampah. Lihat saja aktivitas sehari-hari yang dilakukan.

Aktvitas rumah tangga, misalnya. Pasti ada aja sampah yang dihasilkan. Baik berupa sisa bahan makanan, bungkus plastik atau lainnya. Di rumah kamu masih menghasikan sisa sampah juga kah?

Bayangin deh kalau satu orang rata -rata menghasilkan 0,7 kg sampah setiap harinya. Berapa banyak sampah yang dihasilkan? Dalam tulisan ini kak Niken mau cerita sedikit tentang pak No. Salah seorang petugas kebersihan di wilayah Cipinang Besar, Jakarta.

Sampahku Tanggungjawabku
Tempat Pembuangan Akhir Sumur Batu

 

Suatu hari kak Niken dan duoK mengumpulkan barang-barang layak pakai yang sudah tidak terpakai.

“Pak, ini ada sepatu anak-anak sudah kesempitan. Siapa tahu bisa dimanfaatkan bagi yang membutuhkan.” ujar saya pada pak No.

“Mau bu. Kasih saya aja.” ujarnya dengan mata berbinar-binar walaupun masih dalam kesibukannya memilah sampah.

“Saya taruh disini ya pak?” sambil menyerahkan sepatu-sepatu kk Kal yang sudah tak terpakai.

Disela pak No memilah sampah, kami juga asyik ngobrol. Menurutnya, sampah yang dia kumpulkan dalam sehari bisa mencapai 3 gerobak. Wow… 3 gerobak setip hari!

Gimana sih alur kerja petugas kebersihan?

Sebelum dibawa ke penampungan sampah sementara, biasanya akan dipilah lebih dulu. Kardus, botol plastik, sampah rumah tangga, dan lainnya.

“Kalau saya gak pilihin lebih dulu, biasanya akan jadi rebutan di sana itu.” sambil menunjuk tempat penampungan sampah sementara di seberang Tempat Pemakaman Umum, Kebon Nanas.

Tahu nggak, ternyata beberapa barang bekas yang dikumpulka pak No, biasanya sudah ada yang memesan lho. Maksudnya?

Misalnya, botol plastik bekas. Botol bekas itu sebenarnya sudah dipesan oleh tukang jual parfum di pasar. Penasaran kan, buat apa sih botol bekas itu dikumpulkan oleh penjual parum?

Ternyata akan diolah dan diperbaharui. Digunaka untuk tempat jual parfum. What! Oh no… Glek. Aku hanya bisa nyengir dalam hati.

Baca juga : Cara latih Kemandirian Anak

Balik lagi soal sampah tadi, biasanya dari penampungan ini akan dibawa ke bekasi atau bantar gebang. Bagi petugas kebersihan, mereka lebih memilih melakukan pemilahan setiap hari. Agar sampah rumah tangga yang ada tidak terlalu berbau tak sedap.

Ini nih yang sebaiknya enjadi perhatian kita. Pemilahan sampah sejak dari rumah masing-masing. Karena sampahku tanggungjawabku!

Nah, beberapa hari belakangan, saya ajak duoK untuk menonton video mengenai sampah dan pengolahannya. Apa dan bagaimana sampah kita berasal kemudian bermuara.

Disitu kami pun ngobrol-ngobrol santai. Karena rasa kemanusiaan memang harus dimulai sejak usia dini. Memupuk rasa tanggungjawab. Bahwa pemilahan sampah bisa dimulai sejak kita membeli sesuatu.

Misalnya, membawa kantong atau tas belanjaan dari rumah yang bisa diakai berulang kali. Menolak sedotan plastik, dan lain sebagainya. Meng-cut bahan atau calon sampah plastik yang akan masuk ke rumah.

Apa yang akan kami lakukan dengan banyaknya sampah rumah rumah tangga kami? Mulai beberes dari hal kecil. Penting menanamkan mindset bahwa sampahku tanggungjawabku!

Solusi yang dapat kita lakukan dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. AKrena setiap sampah yang masuk menjadi tanggungjawab kita masing-masing.

Leave a Comment